Wanita Penyayang Anak
Akhir-akhir ini aku selalu dikelilingi anak-anak
yang gemar sekali bernyanyi dan menari. Mereka pandai sekali dalam melakukan hal
itu sehingga membuatku terhibur dan melupakan tentang anakku yang meninggal
dengan cara yang tidak wajar. Hampir setiap hari dirumahku selalu ada satu atau
dua anak kecil lucu dan juga manja datang dan bermain ke rumahku dan anak-anak yang
datang itu selalu berganti setiap harinya. Aku sangat menyukai anak manja
seperti mereka. Mereka tampak senang bermain di ruangan khusus yang kubuat
untuk mereka. Hingga saat ini, anak-anak di rumahku berjumlah kurang lebih sebelas
atau dua belas orang. Memang tidak banyak, karena kegiatan ini belum lama
terjadi dalam hidupku.
Selepasku mengajar sekolah menengah pertama
sebagai guru kesenian, aku selalu mengajak anak untuk ke rumahku. Itulah
kenapa, hampir setiap harinya selalu ada
satu atau dua anak kecil bermain ke rumahku. Hanya dengan melihat mereka menari
dan bernyanyi saja, aku sudah merasa senang.
"Ica, ibu akan mengajarkanmu tentang
seni di rumah ibu. Apakah kamu mau? Ibu punya coklat yang kamu suka."
"Baiklah, karena ibu guru selalu baik kepada
ku dan selalu memberiku coklat yang lezat."
Anak itu bernama Ica dan dia adalah anak
pertama yang ku ajak bermain ke rumahku. Aku mengenal baik orang tuanya karena
aku selalu berkunjung ke kediaman keluarganya dan Ica adalah sahabat anakku.
Sehingga suatu ketika, anakku dikabarkan hilang saat berkunjung ke rumahnya lalu
ditemukan dalam kondisi yang tidak wajar dan Ica pun merasakan kesedihan yang sangat
dalam. Ica telah kehilangan sahabatnya dan ia semakin terpukul dengan keadaan
orang tuanya sedang mendekap diruangan sumpek yang dipenuhi manusia dan berpintukan
besi. Sekarang Ica hanya tinggal bersama kakaknya. Karena itu aku menyayangi
anak ini yang sudah mengalami perih dalam hidupnya dan aku akan menghapusnya
.
"Apakah ibu masih merasa sedih?"
"Tentu saja tidak, karena sekarang ibu
memiliki kamu. Meski kamu bukan anak kandung ibu, tapi ibu tetap menyayangi
kamu."
"Ibu memang guru terbaik. Pintar, muda,
cantik pula." sembari tersenyum polos, dia memujiku.
"Terimakasih nak." aku pun
tersenyum dan mempersilahkannya memakan hidangan yang sudah disedikan. Selapas
dia menghabiskan makanan dan berbincang sebentar denganku, dia pun tertidur di atas
kursi yang berada di ruang makan ini. Ia tidur dengan pulas sehingga aku tak
berani memindahkannya dari kursi. Aku hanya membenarkan posisinya dan memberikan
tali pengaman agar dia tidak terjatuh lalu aku menunggu ia terbangun.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya
dia terbangun dan mulai bernyanyi juga menari. Suaranya samar namun aku suka
itu. Gerakannya pun terbatas dan monton, namun tetap saja aku menyukainya. Tapi
rasanya aku ingin ia melakukan hal yang lebih untuk menghibur ku. Jadi ku putuskan
untuk mewarnai tubuhnya dangan cat warna merah segar yang ku oleskan dengan
garpu. Dengan perlahan aku mewarnai tubuhnya yang mungil itu. Ledakan tawaku
tak tertahankan, saat dia mulai menari dan bernyanyi dengan sangat indah. Aku
tertawa bukan karena geli, tapi aku merasa senang dan bangga kepadanya. Tapi ini
masih belum cukup. Aku tahu dia memiliki bakat yang lebih dalam hal ini. Dia
harus banyak melatih vokal dan gestur tubuhnya. Perlahan tapi pasti. Akhirnya,
tubuh Ica sudah dipenuhi cat merah dan sepertinya, dia mulai lelah. Sejenak
beristirahat dan sudah ku putuskan untuk melatih dia agar menjadi lebih baik.
Tubunhya masih dipenuhi oleh cat merah yang akan segara aku bersihkan dengan
air garam. Selain untuk membersihkan tubuhnya, air ini juga akan memperbaiki vokal
juga gestur tubuhnya.
"Bernyanyilah dengan merdu dan menarilah
dengan indah!" bisiku sembari membasahi tubuhnya secara perlahan dan sedikit
tersenyum. Dia pun mulai menari dan bernyanyi sama seperti sebelumnya. Dia
melakukan gerakan monton dan nyanyian yang monoton namun indah bagiku. Terlihat
bahwa ada perkembangan yang terjadi meski pun hanya sedikit. Suaranya menjadi
lebih nyaring dan merdu. Gerakannya pun menjadi lebih lincah. Namun, perlahan suaranya
mengecil dan dia pun terdiam. Dengan langkah kecil, aku mengitarinya dan
memperhatikannnya. Aku pun mulai kebinhungan, "mungkinkah ia lelah?
Sebaiknya kutunggu beberapa saat lagi."
Setelah berjam-jam menunggu, dia pun tetap
sama. Aku pun mulai jenuh dengan keheningan ini. Pada akhirnya aku mengeluarkan
sihirku untuk merubahnya menjadi kursi. Dengan bakat seni rupaku, ini hanyalah
pekerjaan mudah. Pertama-tama, aku membuat desain bentuk kursi disecarik kertas
dan kemudian aku menyiapkan bagian-bagiannya dengan cara memisahkannya satu-persatu.
Setelah semua bagian siap, ku susun kembali sesusai desain yang ku buat. Ica
pun telah ku sulap menjadi kursi.
Itulah yang terus kulakukan sampai saat ini.
Dan anak-anak yang sudah ku sulap menjadi karaya seni yang indah ku pajang di ruangan
khusus untuk mereka. Tapi setelah aku membawa
anak kecil ke rumahku, selu saja ada laporan tentang kehilangan anak.

psikopat kah?._.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusYa, seperti itu...
BalasHapus