Perjanjian Masa Depan (Remake)
Hidup dengan masalah itu membuat hidup
lebih berwarna. Apalagi masalah mengagumi seseorang dengan penyebab yang tidak jelas. Itulah yang sedangku alami. Semua ini berawal dari hari pertamaku
masuk sekolah sebagai murid baru kelas tiga SMA. Ku awali dengan menjadi murid
baru yang pendiam, duduk sendiri dipojokan, dengan kacamata yang tak pernah lepas, dan sebuah novel konyol yang selalu menemaniku akhir-akhir ini. Sampai
pada akhirnya mataku tertuju pada sesosok wa nita berambut panjang, berponi dan wajah
yang terlihat seperti orang yang menghabiskan malam dengan terjaga.
“Wanita yang unik." ujarku dalam hati
sembari memperhatikan dia berjalan lalu aku baca kembali novel dalam genggaman
ini.
Awalnya biasa. Tapi lama – kelamaan
perasaan biasa ini berubah menjadi perasaan mengagumi. Tapi, setelah terlibat
dalam satu kelompok, mengalami kejadian konyol bersama, dan setelah satu
semester berlangsung rasa kagum itu berkembang biak seperti virus yang
menularkan penyakit menyukai sebagai lawan jenis.
“Dani! Hari jum’at Sofi ulang tahun, kamu
mau ngasih apa?”
Pertanyaan temanku itu membuat jatungku
berhenti sejenak dan imajinasiku yang menyenangkan berubah menjadi hitam pekat
tanpa cahaya sedikit pun. Sekejap terlintas sebuah kalimat yang langsung
terucap begitu saja.
“Boneka mungkin?”
Suasana tiba – tiba menghening.
“Ya, boleh-boleh. Entar hari sabtu kita
siapin kejutan bareng anak – anak lain.” ucapnya sambil memberikan sebuah
sampah tak berguna dan pergi begitu saja.
“HEY!”
Hanya dengan waktu empat hari aku harus mendapatkan
sebuah hadiah dengan keadaan ekonomi yang sedang turun derastis. Ini adalah
pertama kalinya tanda tanya yang besar menampakan diri diotak dan terus
memberikan kebingungan tentang hadiah yang pas untuk seorang wanita yang telah
memunculkan perasaan suka yang tumbuh dari hati, lalu keotak, lalu
menghantarkannya kesemua indra dan membuat semuanya menjadi indah.
Pertanyaan yang sama terus ku lontarkan ke
semua sahabatku yang sudah berpengalaman, "Apakah memberikan boneka untuk
seorang cewek itu wajar atau berlebihan?" Itulah yang selalu kutanyakan
dan mereka selalu menjawab, "Wajar-wajar saja." Tapi tetap saja aku
merasa ragu dan terus meragu hingga hari dimana aku berangkat ke Pusat
Perbelanjaan untuk membeli semua kebutuhan yang diperlukan dihari Sabtu.
Berdiri dan menatap dalam diam terfokus pada satu boneka yang tersenyum manis
seolah merayuku untuk membelinya. Boneka itu, serupa bentuknya dengan gantungan
tas Sofi. "Apakah itu tokoh kesukaan dia?" Masih bertanya dalam
kerguan meski hati kecilku berkata untuk membelinya. Pada akhirnya, boneka itu
menjadi pilhanku setelah bertanya dan memikirkan tentang harganya. Tapi tetap
saja aku merasa ragu dan bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Bersama dua teman
dekat dia, aku berangkat mencari barang-barang lain yang diperlukan. Kaki terus
bergerak maju tapi menatap terus menatap kresek berisi boneka alien besar
berwarna biru yang bernama Stitch.
Sesampainya ditoko kue dan peralatan pesta, "apakah di sini tidak ada lilin yang
susah untuk dimatikan?" tanyaku sembari memperhatikan setiap rak dengan
jeli.
Sejenak mereka tak bergeming karena
kebingungan dengan pertanyaan yang ku beri. "Maksudmu apa sih?" tanya
mereka berdua hampir bersamaan.
Sembari menggaruk kepala kujelaskan kembali
apa yang kumaksud. Tapi tetap saja mereka masih kebingungan dan kebingungan itu
menular kepada ku. Kita bertiga pun larut dalam kebingungan. Sampai pada
akhirnya, aku menemukan apa yang kutemukan dan mereka baru mengerti apa yang ku
maksud.
“Aku duluan ya Dani!” teriak temanku
sembari melesat dan menyatu dengan pemandangan keramaian jalan raya. Aku pun
melesat dan menghilang
Bulan pun pergi menjemput mentari dan
memintanya untuk menyambut pagi yang dingin. Dengan sinarnya yang menyilaukan,
yang menembus celah daun lalu memasuki jendela dan menusuk mataku yang terasa
berat untuk dibuka mentari membangunkan ku. Menikmati kasur dulu sebelum pergi
mandi itu adalah tradisi burukku. Setelah semua terasa cukup aku bergegas ke
kamar mandi. Semangat pagi untuk menyambut hari sabtu yang spesial bagiku, juga
mungkin spesial untuknya muncul dan kemudian menghilang begitu saja ketika aku
tersadar jam sudah menunjukan pukul tujuh dan itu artinya aku terlambat
sekolah.
“Oh God why? Mau bilang apa nih ke semua
penghuni rumah? Pura-pura sakit? Entar sakit beneran.” otak yang masih membeku
ini, terus dipaksa untuk berpikir mencari sebuah asalan yang cocok.
“Aaaah!
Bilang aja sekolah jam sepuluh!” bisik sisi gelapku.
Akhirnya, aku berbohong dengan cara itu.
Detik-detik kebohongan telah terlewati. Saatnya menjalankan sebuah rencana.
Hadiah, kue, dan dekorasi lilin sudah siap. Pesta kejutan akan diadakan di
kamar dia. Dua orang temanku datang ke rumah dan mengambil hadiah dariku dan
juga kue yang sudah didekor. Mereka langsung melesat ke TKP dan aku bersama Phantom
motor kesayanganku melesat dengan kecepatan cahaya menuju ke sekolah untuk
menahan dia agar tidak langsung pulang ke rumah.
Semua skill akting sudah dikeluarkan.
Sebagian temanku sudah berangkat ke TKP hanya aku, dia dan temanku yang
lainnya.
“Vie! Kamu tahan dia di sini, saya langsung
ke rumahnya oke. Entar kamu nyusul! jelasku dengan berbisik.
“Siap Dan!”
Dengan kecepatan cahaya lagi aku melesat
kerumahnya. Berkali-kali aku hampir menabrak semua benda yang berda di hasapan
ku. Mungkin aku terlalu panik dan terburu-buru. Namun semua itu tidak
mengrungkan niatku untuk terus melaju dengan kecepatan tinggi. Jika sampai aku
terlambat, semua akan menjadi percuma.
Semua sudah siap dan semua sudah bersembunyi ditempat
masing masing. Hari ini memang bukan hari keberuntunganku. Aku mendapatkan
tempat persembunyian diatas lemari. Mungkin karena aku paling kecil di sini.
Kepanikanku karena takut lemari ini rubuh bertambah ketika Ayah dan Ibunya
memasuki kamar dan mereka memperharikanku dengan tatapan yang tidak mengenakan.
“Dia datang!” ucapku sedikit berbisik.
Satu orang sibuk menyalakan lilin. Karena terlalu panik, dia sampai kesulitan untuk menyalakan lilin dan kejutan bersembunyi
pun gagal total karena temanku telat kembali ke tempat persembunyiannya. Tapi
tak apalah yang penting kejutan hadiahnya jangan sampai gagal. Semua larut
dalam keceriaan dan kekonyolan bersama. Tiba saatnya tebak hadiah. Dengan
peraturan “jika pemberi hadiah ke tebak harus dipeluk” peraturan yang aneh.
Semua hadiah sudah tertebak dan tiba pada hadiahku. Terdapat kesalahan dari
hadiahku yaitu selembar kertas dengan sebuah kata-kata yang kubiat sendiri. Dan
kesalahannya itu adalah tulisanku yang mempunyai ciri khas dengan bentuknya
yang jelek. Belum lama ini, temanku ketika aku dibangku sekolah dasar dan bertemu
lagi di SMA ini berkata bahwa tulisanku tidak berubah.
“Ah, ini pasti tulisan kamu ya Dan?”
tanyanya sambil senyam-senyum.
“Mana? Diperiksa dulu tulisannya” ucapku
gagap dan ku baca tulisanku sendiri sembari menutupi wajah yang sudah tidak
kuat untuk tersenyum. Terlintas sebuah alasan agar hadiah ini tidak mudah
ditebak, “bukan! Tulisan saya gak sebagus ini.” ucapku berusaha meyakinkannya.
Dengan mudah dia percaya dengan alsan itu. Perempuan yang polos.
Detik, menit, jam, hari, dan bulan.
Seperrinya tidak sampai sejauh itu. Detik, menit, dan jam berlalu. Dengan
memakan waktu yang berjam-jam, dia berusaha menebak siapa pemberi boneka itu
dan pada akhirnya, rahasia pemberi boneka Stitch sudah terbongkar dan dengan
santainya, dia menawrkan pelukan kepada ku. Sekejap diriku ditelan kegelisahan
dan wajahku mulai memerah, "tak perlu repot-repot." dengan berat hati
aku menolaknya karena perasaan suka yang memicu rasa malu untuk melesat dan
meracuni pikiran. Tapi biarlah. Yang penting hadiahnya diterima dengan senang
hati olehnya.
Ini baru mencapai hitungan bulan. Detik,
menit, jam, hari, dan bulan berlalu. Perasaan ini semakin merajang tak
tertahankan pertumbuhannya. Bagai api yang perlahan merambat melahap hutan. Aku
tak bisa berhenti memikirkanya. Wajahnya terus terlintas dipikiran dan suaranya
yang terus terngiang membuat perasaan ini semakin kuat. Haruskah aku
mengungkapkannya atau aku biarkan begitu saja?. Tapi, aku harus mengukapkannya
sebelum terlambat dan menjadi penyesalan. Kefanatikan ini memberikan kisah
tersendiri untuk catatan akhir masa SMAku ini. Hasil akhir dari perundingan
diriku dan diriku yang lainnya sudah putuskan. Aku akan mengungkapkannya dengan
caraku dan aku ingin tidak tahu tentang rencanaku ini. Meski aku memilih cara
yang sederhana, aku akan tetap melakukannya.
Rencana akan dilaksanakan pada hari Selasa
siang dengan mengajaknya ke sekolah. Hari itu adalah hari bebas karena semua
siswa kelas tiga telah melaksanakan UN. Sembari membaca sebuah novel, aku
menunggunya depan koridor depan kelas. Tempat dimana anak-anak di kelas berdiam
diri saat istirahat. Tampa menghiraukan sekitar, aku terus membaca dan
mendengarkan musik. Bahkan teman sekelasku memanggil pun aku hiraukan hingga
pada akhirnya dia memukul pundakku.
"Apa
yang kamu lakukan di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti
itu kepadamu!" ucapku berang sembari mengacungkan telunjukku kearahnya.
Sembari mengambil novelku yang terjatuh, aku perbatanya. "Apa yang kamu
lakukan di sini?"
Dengan langkah kecil, dia memutar lalu dia
menjatuhkan tubuhnya kelantai tepat di depan posisi duduku tadi. "Aku
sedang mengurus hal-hal yang perlu ku serahkan ke Universitas yang aku
plih." ucapnya. Sesaat dia melanjutkan sembari melamparkan sebuah roti ke
arahku, "lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku lupa jika aku sedang melaksanakan
misi rahasia. Jika sia tahu, maka semua tidak akan menjadi rahasia lagi."
ucapku dalam hati. "Aku sedang bosan berada di rumah. Aku sedikit
merindukan-" belum sempat ku tuntaskan kalimatku, tiba-tiba dia muncul dan
menyapaku dari ke jauhan.
"Maafkan aku Dani, telah membuatnya
menunggu." dia sudah kehabisan nafasnya dalam perjalanan. Terlihat dari
ucapannya yang terpotong-potong. "Aku kira kau sudah pulang karena terlalu
lama menungguku." lanjutnya.
Tiba-tiba temanku menghampiri dan berbisik
dengan nada yang sangat jelas menghina kepada ku,
"aku hanya sedang bosan
di rumah." lalu dia senyam-senyum tidak jelas.
Ku berikan sedikit tawa kepada Sofi untuk
meredakan rasa grogi yang beecampur panik ini. "Aku juga baru sampai di sini."
kalimat kebohongan yang sudah basi. Tapi hanya itu yang ada dalam pikiranku.
Aku dan juga mereka berdua larut dalam
obrolan yang panjang yang entah apa inti dari obrolan itu. Tak terasa matahari
sudah mencpai barat dan kami melupakan tujuan masing-masing dan rencanaku gagal
total karena orang itu tidak menyadari situasi. Tapi, kegagalan ini juga karena
salahku yang tidak memberi tahu temanku dulu. Mungkin memang ini bukan waktu
yang tepat. Pada akhirnya aku mengjaknya ke sekolah lagi pada hari Sabtu siang.
Aku mengatakan padanya akan menunggu di atap sekolah, tempat biasa aku berdiam.
Dengan alasan yang tidak masuk akal aku mengajaknya ke sekolah. Rencana yang
kususun pada hari itu adalah, aku akan memperdengarkannya sebuah lagu yang pas
dengan suasana hatiku saat ini. Lagu dari salah satu band favoritku yaitu
J-rock dengan judul Fallin In Love. Kurasa itu lagu yang cocok. Setelah aku
memperdengarkannya, aku akan mengutarakan semuanya. Mengutarakan apa yang telah
menjadi rahasiaku kepadanya. Tapi sayang rencana ini juga gagal dilaksanakan.
Ketika aku memperdengarkannya sebuah lagu dari earphone yang baru saja aku
dapatkan, tiba-tiba saja dia terkena sakit perut dan kembali ke rumah. Untuk
kedua kalinya aku gagal mengutarakan perasaan ini. Rasanya aku ingin menyerah
saja dan membiarkan ini menjadi misteri. Tapi ku rasa menyerah bukanlah hal
yang baik. Aku akan menunggu hingga saat yang tepat tiba.
Semua pasti ada waktunya itu memang benar.
Aku mendapat kesempatan pada hari Senin. Ketika matahari akan mengucapkan
selamat tinggal aku sedang berada di sekolah bersama dia dan rekan satu tim
kerja film dokumenter kelas. Kami sedang melakukan pengambilan gambar untuk
adegan dimana sang tokoh utama yang diperankan oleh Gilang sedang berkunjung ke
SMA dimana ia menemukan jati diri. Pengambilan gambar dilakukan pada pukul
tiga. Seharusnya pengambilan gambar ini dilakukan satu jam sebelumnya. Tapi
karena aku terlambat datang, pengambilan gambar ini diundur. Pengambilan gambar adegan di sekolah
berakhir. Semua rekan satu tim sudah memberi kesempatan agar aku dan Sofi bisa
berbincang berdua. Tapi dia selalu menghindar seolah dia telah mengetahui apa
yang akan terjadi. Rasa putus asa mulai muncul. Semangat api yang sebelumnya
berkobar tiba-tiba padam tertiup angin keputus asaan. Perang batin pun dimulai
dan pikiranpun mulai tidak karuan. Tapi semua itu berhasil teratasi berkat
semua sahabat yang selalu mendorong dari belakang. Perasaan cangung menyeruap
ketika aku berusaha mendekatinya. Memulai membangun suasana dengan membicarakan
anime. Terlintas dipikiran sebuah pembukaan cerpen yang ku buat semalam.
“Eh! Semalam aku membuat sebuah tulisan,
rencananya sih mau dibuat cerpen tolong koreksi ya.” sembari berusaha menatap
matanya ku berikan secarik kertas
berisikan,
“Meski sekejap, tapi itu memiliki kesan
tersendiri buatku. Ketika pandangan kita saling berpapasan dan waktu terhenti
walau sesaat di situlah aku menemukan hal yang berbeda. Sedikit samar perlahan
berkumpul membentuk rasa. Ku kira, hanya akan terjadi sesaat tapi ini terus
berkembang tak tertahankan. Ragu tak ku ucap dan ku harap akan tetap begini.
Tapi semakin lama aku melihatmu dan memperhatikan sikapmu dari belakang tempat dudukmu,
perasaan ini semakin tak terkendali, tak terbendung dan akan meluap mengalir
kepadamu. Tinta hitam ini kan ku ubah menjadi lebih berwarna agar kau bisa
melihat kisah juga rasa dalam tulisan ini."
Selepas dia membaca dan mengembalikan
kertas itu, dia terus berpikir dalam beberapa saat lalu ia berkata, “Aku tidak
menyangka ternyata kau memiliki hobi menulis. Bagus kok Dani tinggal
dikembangin lagi dan mengebangan kata dan kalimat dengan mencari refrensi dari
buku lain."
Sudah
jelas jika pesan yang tersirat dari tulisan itu tidak tersampaikan.
“Sebenarnya
itu khusus ku tulis unrukmu. Bukan untuk dikembangkan menjadi novel, tapi itu
khusus ku tulis untukmu.” sembari menatap matanya yang menyinarkan cahaya
kebingungan, aku jelaskan tujuanku membuat tulisan itu. Tapi tetap saja dia
belum memahaminya atau mungkin saja dia mengerti tapi tak tahu harus berkata
dan berbuat apa. Suasana menghening ketika senja mencapai puncaknya. Semua tidak
mengerti dengan apa yang ku maksud. Memang seharusnya aku mengutarakannya secara
langsung dan jelas tanpa media apa pun. Dengan bahasa Jepang yang aku pelajari
dari anime aku mengataknya. Jika diterjemahkan, kurang lebih seperti ini.
“Sofi, sebenarnya aku memiliki rasa untuk
kamu. Bukan sekedar rasa mengagumi saja, tapi lebih. Tulisan yang kau baca itu
khusus ku tulis untuk mu. Tulisan itu berisikan perasaanku selama ini." ku
kembalikan kertas itu kepadanya. Dia terlihat begitu bingung dan kaget. Mungkin
dia berkata dalam hatinya, “ini mimpi?”.
“Eeee…makasih ya Dani." dia terlihat gelisah.
"Lalu aku harus membalas apa utukmu?” tanyanya canggung.
“Sofi, aku tahu kau merasa bingung jadi
biarkan aku menjelaskannya lagi." ku beri sedikit senyuman agar suasana tidak
terlalu tegang. Kemudian aku melanjutkan, "rasanya seperti aku ingin memiliki
mu, aku ingin terus bersama denganmu tapi di sisi lain aku tak ingin hal itu
itu terjadi. Masih terlalu dini untukku melakukan hal seperti itu. Jadi jika kau
tak keberatan, aku ingin kau menunggu ku hingga aku mencapai puncak tujuan
hidupku. Setelah pendakianku telah mencapai puncak, aku akan turun dan mengajakmu
melihat puncak yang ku capai." semua sudah kujelaskan. Dia hanya terdiam
sembari menundukan kepala tapi dia tidak marah, hanya saja dia tak tahu harus
berbuat apa. Di sisi lain, teman-temanku yang menyaksikan ini mendadak histeris
dan tidak menyangka jika aku akan melakukan hal ini. Meski begitu, semua
berjalan lancar. Dia belum mengucapkan satu patah kata pun untuk akhir dari
cerita ini. Tapi aku tidak terlalu berharap biarkan dia dan Tuhan saja yang
tahu. Semua ucapanku akan ku buktikan jika aku diberi kesempatan. Jika dipikirkan
lagi, ucapanku itu terlalu berlebihan tapi memang betulah aku adanya. Semoga
perasaan ini akan terus bertahan hingga jawaban dari semua misteri masa depan
terungkap. Perasaan ini memecah dinding perbedaan dan menjadikan semuanya
menjadi lebih indah. Dia mengenalkan dunia masa laluku yang sudah ku lupakan.
Dia, begitu, begitu berbeda. Terdapat faktor 'x' yang tak mudah tuk diartikan. Dunia
itu memang berwarna.
Tiba-tiba, ketika suasana hening
ditelingaku dan dipikiran ku sendiri ,
“Aku pun sama Dani. Aku pun menyukai mu.”
ucapnya pelan.
“Hah? Apa kau mengucapkan sesuatu?"
tanyaku pura – pura tidak mendengar yang dia ucapkan.
“Tidak ada pengulangan untuk kalimat tadi!”
ucapnya dingin. Perlahan wajahnya memerah. Tampak lebih indah karena wajahnya
yang memerah bercampur dengan senja. Dia tersenyum karena ku. Melalui
senyumannya itu, seolah ia berkata, "terimakasih untuk semuanya."
Disore itu semua terasa sangat menyenangkan.

Komentar
Posting Komentar