Berbaur Dengan Pirau: Lagi Bagian I
Berbaur Dengan Pirau: Lagi
Bagian I
Dunia itu sebenarnya dipenuhi oleh
warna. Ambil sebuah contoh yaitu pelangi. Menurut lagu anak-anak yang sempat
popular pada saat aku kecil, disebutkan pelangi itu terdiri dari beberapa warna:
merah, kuning, dan hijau lalu ditambah tempatnya di langit yang biru. Lalu
menurut pelajaran saat SD, atau mungkin SMP pelangi itu itu memiliki tujuh
warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu yang jika disingkat
atau mungkin bisa disebut akronim menjadi MEJIKUHIBINIU. Aku sempat melihat
spektrum warna yang terjadi dari pembiasan matahari oleh butir-butir air
diudara. Sempat beberapa kali, hingga akhirnya aku menjadi buta warna dan semua
yang aku lihat adalah pirau. Ya, pada saat itu semua yang aku lihat adalah
pirau atau kata umumnya abu-abu.
Pada awalnya aku berpikir kalau
kejadian itu adalah fenomena alam yang terjadi di kota itu. Lalu aku memutuskan
untuk hijrah ke kota sebelah. Lagi pula, di kota ini aku sudah tidak memiliki
siapa-siapa selain teman dan beberapa saudara.
“Jadi pindah besok Mal?” tanya
temanku tanpa menoleh.
Aku biasa dipanggil seperti itu
karena namaku adalah Kemal.
“Ya jika tidak ada halangan.” Aku
sadar suaraku terdengar lesu.
“Memang sih ngomong itu gampang…
tapi…” terdengar suaranya penuh keraguan.
“Ya, kematian adalah takdir. Aku
tahu, tapi entah kenapa rasanya…” sengaja aku tidak melanjutkan kalimat itu.
Aku berkumpul seperti biasa seolah aku
baik-baik saja. Seolah kejadian saat pagi, saat aku sedang berada tepat di
depan kamar ibuku sudah aku lupakan.
Saatnya tiba. Hari dimana aku akan
pergi menuju tempat yang mungkin akan berwarna. Aku sengaja tidak membawa
banyak barang, karena pada akhirnya barang-barang itu tidak akan berguna. Cukup
beberapa saja yang aku perlukan di sana.
Sepanjang jalan aku mendengarkan
lagu yang sama. Lagu yang isinya instrument saja dengan ritme yang pelan. Lagu
ini lebih banyak mengandung nada mayor. Nada yang biasanya digunakan untuk lagu
yang berbau sedih. Ya, meski terkadang teori itu hanya menjadi sebuah teori
ketika praktek.
Mata masih terpejam, mulut masih
membungkam, tapi aku masih bernafas. Entah kenapa rasanya aku tidak ingin
berbicara dengan orang yang berada dimobil meski dia adalah kakaku sendiri.
Bukan aku membencinya, tapi aku takut pembicaraannya terpacu kearah hal tabu
untukku saat ini. Bahkan aku sudah mengutuk diriku bahwa itu akan menjadi hal
tabu untukku selamanya.
“Perlu bantuan?” tanya kakaku sesaat
setelah sampai tujuan, saat akan menurunkan barang,
“Enggak usah.” Jawabku berusaha tersenyum.
Tanpa bergeming, dia langsung pergi
membawa barangnya yang pada saat itu sengaja dia tinggalkan di rumah itu. Rumah
yang selalu menjadi pusat untuk berkumpul.
“Nanti kumpul dimana ya? Kalau mau
pulang ke mana ya? Apakah aku kehilangan arti dari sebuah rumah?” Mendadak
pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu meluap dalam pikiran dan keluar menjadi
suara lirih.
“Enggak ada lagi barangnya?” tanya
kakaku sambil merapihkan beberapa barang.
“Sudah semua.”
Ini bukan pertama kalinya aku ke
sini. Jadi, aku sudah hapal daerah sini. Jadi untuk mengisi kekosongan, aku
memutuskan untuk berkeliling menggunakan sepedah balap yang kata kakaku sepedah
model lama.
Perjalanan berakhir disebuah
taman yang membuat aku sadar akan sesuatu. Ternyata setelah menempuh jarak yang
cukup jauh, pada akhirnya apa yang aku lihat masih saja pirau. Rasanya ingin
berkata kasar, ingin memaki seseorang. Tapi aku tahu itu tidak akan berguna..
Untuk beberapa saat aku termenung.
“Mungkin aku lelah.” Pikirku. “
Dengan kehendaknya sendiri, khayalku
melayang entah kemana. Hingga pada akhirnya seokor kucing yang entah datang
dari mana membawa kembali khayalku.
“Dasar kucing!” kataku kesal sambil
mengikuti arah kucing itu pergi. “Jiah, dia menghilang.”
Karena kejadian itu, aku menemukan
hal yang menarik tak jauh dari arah
kucing itu menghilang. Yaitu seorang perempuan yang mungkin lebih muda dariku
sedang duduk dengan buku ditangannya. Sebenarnya bukan perempuan itu bagian
menariknya, tapi buku yang dipegangnya. Buku itu adalah sebuah buku terbitan
lama yang sudah jarang ditemukan. Aku punya dua buku dari seri kelanjutan buku
yang dia pegang. Buku itu, buku yang perempuan pegang itu adalah buku seri
pertama. Karena masalah perizinan, buku itu tidak dicetak ulang. Jadi bagi
mereka yang memilikinya, itu adalah suatu keberuntungan.
“Yah, dia pergi.” Aku mengintip dari
sudut mataku.
Karena buku itu, aku memutuskan
untuk mengikutinya. Dari sini terlihat bahwa dia sedang berjalan sambil menggendong
kucing yang tadi membuat sedikit kerusuhan. Rambutnya dikuncir bagian
belakangnya saja atau yang biasa aku sebut ponytail.
Kunciran itu bergoayang mengikuti irama langkah kakinya.
“Sepatunya penuh warna. Terlalu
mencolok.” Pikirku. “Tunggu dulu!” segera aku memastikan keadaan sekitar. “Ternyata
masih terlihat sama.” Lalu aku melihat kembali sepatunya.“Ternyata tadi cuma
ilusi ya?”
Dia masih berjalan dengan irama
yang sama. Earphone bluetooth yang dia gunakan terus mengedipkan cahayanya.
“Oh, dia belok.” Dengan sedikit
tergesa-gesa aku berbelok.
Aku terkejut bukan main untuk
pertama kalinya setelah cukup lama aku mati rasa. Perempuan itu menghilang di
jalan yang hanya ada lampu-lampu dan beberapa tempat sampah. Pikiranku mulai
beranjak kebanyak hal yang tidak masuk akal yag mungkin hanya terjadi dicerita-cerita
fantasi saja. Pemikiran ini tidak bisa hindari. Semakin kuat aku mencegahnya,
semakin cepat pikiranku menuju kepemikiran yang tidak masuk akal. Sampai pada
titik puncak pemikiran anehku ini, aku disadarkan oleh tepukkan keras dan suara
yang cukup memekikkan.
“Hayo, ngapain hayo?”
Segera aku menoleh dengan
ekspresi yang masih sama dengan sebelumnya. Mungkin lebih.
“Stalker ya?” dia tersenyum
ramah.
“He? Bukan… aku cuma…” gagap
seketika aku dibuatnya.
“Lalu?” dia terlihat santai. “Aku
tahu tadi kamu merhartiin aku… eh… buku yang aku pegang maksudnya.”
“Sial ternyata dia tahu.”
Pikirku. “Iya, aku tertarik sama buku itu. Itu Seven Maverick yang sudah
langkakan?” tanyaku sambil mencoba menenangkan diri.
“Iya, lalu?”
“Enggak apa-apa. Aku punya dua
seri kelanjutannya tapi yang seri pertama aku enggak punya. Makannya aku
tertarik sama buku itu.”
“Wah, kamu punya dua seri
kelanjutannya?” dia terlihat antusias. “Minjem dong, aku bosen sama buku ini.
Mungkin sudah lima kali aku baca buku ini.”
Aku tidak percaya dengan respon
yang dia berikan, Dia berbicara denganku seolah kita sudah kenal lama. Nada
bicaranya begitu santai dan bahasa tubuhya terlihat bahwa dia tidak sedang
dalam keadaan risih, malu atau perasaan sejenis lainnya.
“Emmy! Ayo, perutku lapar.”
“Maaf ya, kucingku sudah mulai
lapar. Dia suka menyebalkan kalau lagi lapar.” Katanya dan langsung pergi
menghampiri kucingnya yang berada dibelakangku.
“Ok.” Perlahan aku mengayuh
sepedahku. “Tunggu dulu! Tadi dia bilang kucingnya memanggil? Salah dengar apa
ya?”
Keesokan harinya aku kembali
ketaman itu. Tepat seperti dugaanku. Dia berada disana. Gadis ponytail dengan sifatnya yang aneh.
“Aku tahu kamu pasti ke sini
lagi.” Katanya setelah menghapiri dan menyapaku.
“Aku cuma iseng, karena aku
bingung mau ke mana lagi.” Jawabku mecoba untuk biasa saja.
“Bilangnya sih iseng, tapi kamu bawa
buku itu.” tebaknya dengan senyuman yang sama denang senyumannya kemarin.
“I-iya…” seketika aku gagap.
Mungkin aku kaget dengan tebakannya.
“Boleh aku pinjam?” tanyanya
sedikit memelas.
“Boleh, tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Jawab jujur ya…”
Dia hanya mengangguk.
“Emang kucing bisa ngomong ya?”
tanyaku dengan polosnya.
Sontak dia tertawa
terbahak-bahak. Ini pertama kalinya aku melihat perempuan tertawa dengan begitu
lepasnya. Rasanya menyenangkan.
“Enggak ada pertanyaan lain yang
lebih berfaedah?” katanya terputus-putus karena tawanya.
“Sudah jawab saja!” kataku kesal.
“Iya, kucing aku bisa ngomong.”
Dia menjawab setelah dia berhasil menghentikan tawanya. “Willow!” tak lama
kucing yang berwarna putih dan kuning dengan bulunya yang tebal muncul.
Wajahnya yang hampir bulat membuat dia terlihat lucu. Seharusnya.
“Kenapa mukanya terlihat
menyebalkan? Kalau mukanya enggak gitu pasti lucu.” Kataku dingin.
“Apa kamu bilang?” kata kucing
itu sambil meronta dipelukan Emmy.
“Wah! Beneran bisa ngomong!”
Mungkin kejadian itu tidak akan
aku lupakan.
“Nah, sekarang mana bukunya?”
tanya Emmy penuh rasa tidak sabar.
“Nih.” Aku menyodorkan dua buku
itu. “Sebagai gantinya, aku minjem buku yang kamu.”
Dia mengeluarkan bukunya dari tas
kecilnya dan lalu memberikannya.
Pertemuan kita berakhir di sana.
Dimomen kita bertukar buku. Dia pergi bukan karena Willow ingin makan, tapi
Emmy ingin segera membaca buku itu dengan suasana yang cocok, yang hanya bisa
dia dapatkan di rumahnya. Mungkin dalam kamarnya.
Tanpa tergesa-gesa, aku kembali
ke rumah. Kali ini aku membawa perasaan yang dulu pernah aku rasakan: senang.
Entah kenapa aku bisa merasakannya kembali. Mungkin karena buku yang ada dalam
tas biru langit yang aku dapat dari ibuku sebelum beliau jatuh sakit. Ya, aku
yakin buku inilah penyebabnya. Rasanya jadi tidak sabar untuk membacanya dan
berbagi dengan Emmy.

Komentar
Posting Komentar