Bermain
Saat itu, aku sedang bermain bersama teman-temanku di rumah. Hari kamis sore aku bermain dengan pakaian putih biru. Pakaian yang biasa aku gunakan dari pagi hingga sore. Kadang hanya sampai siang aku menggunakannya karena aku menggantinya saat di rumah. Kita bermain seperti biasa. Menjelajahi sungai yang jauh dari kata wangi. Entah apa yang ada dalam pikiran kita. Tapi itu menyenangkan untuk beberapa saat sampai kita merasa bosan dan mengganti permainan. Kali ini kita bermain "peperintahan" begitulah kami menyebutnya. Peraturan dari permainan ini adalah yang kalah harus mematuhi yang menang, dan pemenangnya ditentukan dengan hom pim pa. Karena tubuhku kecil, karena aku penakut, dan karena aku yang paling muda, aku selalu kalah dalam permainan ini. Setiap kali aku yang kalah, aku selalu mendapatkan perintah yang aneh. Seperti, aku diperintahkan untuk memakan katak atau kecoa hidup-hidup atau apa pun yang tak lazim untuk dimakan. Aku tidak menyukai permainan ini. Sama sekali tidak menyukainya.
"Kau kalah lagi kali ini." katanya sembari tertawa puas. "Aku ingin melakukan sebuah percobaan yang baru-baru ini aku lakukan kepada katak." ia membawa sebilah kayu pendek dan tidak terlalu besar.
"Aku sudah lelah dengan permainan ini. Kita ganti saja." ujarku terbata-bata karena nafasku yang sudah mulai sesak karena kelelahan.
"Aku ingin sekali melakukan ini!" matanya membelalak seakan-akan bola mata itu akan keluar dari tempatnya. "Jika tidak kau takan menjadi teman kita lagi dan kehidupanmu akan hancur. Ingatlah siapa aku dan kau. Juga tentang kedudukan keluarga kita. Tanpa keluargaku, kau bukan apa-apa." dia mengacamku sembari menodongkan kayu yang dia pegang dan kemudian ia memukulkannya kepadaku. "Cepat nungging!"
Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang dia perintahkan. Tak berani aku melawan. Jika aku melawan, aku akan menjadi musuh mereka dan yang lebih buruk lagi dia selalu mengancam keluargaku. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan keluargaku dan keluargnya. Tapi setiap keluarganya berkunjung ke rumahku, semua terlihat begitu harmonis begitu juga sebaliknya.
Semakin lama aku semakin tenggelam dalam lamunan karena memikirkan hal itu. Aku mulai berpikir tentang nasib ku kedepannya. Aku mulai tidak fokus. Pikiranku buyar karena permainannya yang berbumbu keogoisan. Ini mulai melewati batas.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku yang sudah mulai gusar.
"Nikmati saja, ini akan terasa sakit diawal dan ketika kau buang air besar pun, mungkin akan terasa sakit juga."
"Kau mulai keterlaluan!" bentakku meski tak membuahkan hasil. Aku mulai meronta untuk melawan. Tapi apa dayaku dengan badan yang tak sebanding dengan mereka yang menahanku.
Rasa sakit mulai menjajahi tubuh. Aku mulai berteriak sejadi-jadinya. Sedangkan mereka tertawa dalam prihatin bercampur takut. Pada akhirnya, tubuhku terkulai lemas diatas lantai yang dingin. Nafasku habisku habis bersamaan dengan energiku. Pikiranku kosong. Rasanya seperti berbaring diruangan gelap meski aku bisa dapat melihat dengan jelas wajahku dari pantulan lantai. Wajah mereka yang berdiri dalam diam. Dan wajahnya yang tampak seperti setan berwujud manusia. Perih yang terasa ditubuh bagian bawah belakang ini aku hiraukan. Aku sudah mulai tak waras sepertinya.
"Kita lanjut bermain besok. Hari ini aku dibelikan pistol mainan yang bisa menembakan peluru." katanya dengan bangga. "Aku ingin mencobanya besok." lanjutnya sembari menatapku.
Mereka akhirnya pergi dan disusul denganku yang berjalan menahan perih.
Keesokan harinya, kami bermain perang-perangan sesuai dengan yang dikatakannya. Mereka dan juga aku membawa apa pun menyerupai pistol. Aku pun membawa benda yang menyerupai pistol dan juga bisa menembakan peluru panjang. Peraturan dipermainan kali adalah aku menjadi teroris dan mereka polisi.
"Satu lawan lima ya? Siapa takut." pikurku yang mulai menjadi pemberani.
Permainan dimulai. Aku bersembunyi didalam rumah kosong tempat kemarin aku mendapat hukuman tak lazim. Senjataku sudah penuh dengan peluru yang siap melesat dengan cepat. Aku berjalan dengan santai mencari posisi yang aman. Saat aku bersembunyi, aku mendengar langkah kaki yang mulai mendekat dan semakin dekat yang kemudian menghilang saat aku berdiri.
"Kau kena kali ini!" ujarku sembari melangkahi tubuhnya dan menembaknya lagi tepat bagian bahu. Aku kembali mencari posisi dan kali ini aku berpapasan dengan dua orang bersenjatakan pistol yang, "Senjata macam apa itu?" aku menembak kedua orang itu tepat ditengah jidatnya. "Tentu saja kalian akan mati!" lanjutku dengan nada yang angkuh. Aku kembali berjalan menyusuri rumah kosong itu. "Kali ini aku merasa akan menang dari mereka dan sepertinya mereka tidak akan mengerjaiku lagi." ujarku yang mulai menikmati dan semakin menikmati permainan ini.
Mereka pandai sekali bersembunyi dalam keadaan merela yang menurutku terluka parah.
"Kalian bisa bersembunyi tapi kalian tidak bisa lari dariku!"
Jalan masuk yang juga jalan keluar dari rumah ini sudah ku tutup jadi mereka tak akan jauh dari rumah ini.
"Keluarlah, tidak seru jika kalian bersembunyi terus." kataku layaknya seorang penjahat.
Aku terus mencari mereka. Disetiap ruangan yang menurutku memungkinkan. Saat aku sedang mengacak-ngacak satu kamar, tiba-tiba aku mendengar suara benda yang terjatuh. Segera aku menghampiri sumber suara itu dan yang aku temui di sana adalah dua orang polisi yang aku cari selama ini.
"Kemari kalian!" kutembakan satu peluru ke arah kepala salah satu dari mereka. Sayang itu meleset tapi peluru itu mendarat dimatanya.
"Kenapa kau menangis?" ia mencucurkan air mata dari ujung mata kanannya. "Pasti sakit ya? Biar aku akhiri kesakitanmu itu." kali ini tembakanku tepat dijidatnya. "Kau pandai dalam berakting. Akting matimu ini terlihat nyata dengan darah-darahan yang kau keluarkan."
Terlalu asik dengan satu polisi, mengakibatkan polisi terakhir kabur. Aku mengejarnya sembari menembaki kakinya. Banyak tembakanku yang meleset tapi peluruku masih banyak untukku tembakan. Semakin lama jarak antara aku dan dia menipis dan kecepatan dia berlari pun berkurang. Sepertinya dia lelah karena terlalu lama berlari.
"Apa kau lelah?"
"Kau setan kecil! Senyummu menakutkan!"
"Beginilah seorang teroris seharusnya bukan?" ku pegang kedua tangannya dan kutembakan kedua telapak tangan bagian atasnya sehingga merekat dengan lantai. "Apa kau mengingatnya? Teriakanku yang kemarin di ruangan tua ini?"
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku ingin menghukum mu karena kau kalah."
Ku ambil sebilah kayu yang sama dan membuatnya berada dalam posisi yang sama denganku kemarin. Dia mulai berteriak sejadi-jadinya. Tapi teriakan itu tertutup suara musik yang aku putar. Musik itu adalah musik kesukaannya. Sengaja aku menyediakannya dengan membawa pemutar kaset yang menggunakan baterai karena di sini tidak ada sumber listrik. "Aku baik bukan? Bermain sembari memperdengarkan musik kesukaanmu." dia hanya merespon dengan teriakan. Mungkin dia terlalu senang.
Aku terus bermain dengannya sehingga dia kelalahan karena teriakan dan rontaannya yang sia-sia.
"Apa kau lelah?"
"Maafkan aku, aku takan melakukan hal yang sama?" dia memohon sembari mencucurkan air mata.
"Untuk apa kau meminta maaf?" tanyaku dengang tulus. "Sebaiknya kau beristirahat. Kau telah lelah dan kalah." ku layangkan tembakan terakhir dan permainan pun berakhir dengan aku sebagai pemenangnya.

Komentar
Posting Komentar