Sulit


            Namaku Dani. Aku adalah seorang murid SMA yang normal. Menjalani hari – hari dengan normal, keluarga yang normal tapi tidak tuk semua temanku. Hehehe…
“Oi Dan! Kemana?” tanya temanku.
“Ke mini market jow…” jawabku dengan sedikit senyuman.
“Oh sip…Eh! Itu siapa jow?” tanyanya sambil senyam – senyum bermaksud.
“Oh…adik jow, bukan siapa – siapa. Kan udah tau mana cewek gue…” jawabku berusaha meluruskan.
“Hahaha…kirain si nda yang lian…” ujarnya dengan semumnya yang penuh dengan rasa malu.
                  Nda atau namanya aslinya Melinda. Dia adalah pacarku. Sudah lama kami berhubungan. Hubungan kami sempat berakhir karena beberapa factor. Tapi kami bersatu kembali dan dari situlah aku mulai bosan dengan semua ini. Sempat mencoba mencoba mencari yang lain, tapi…sudah lah. Dan pada akhirnya…aku menemukan seseorang.
“Bro! Itu siapa bro? Satu angkatan sama kau?” dengan spontan aku menanyakannya.
“Iya…kenapa gitu? Emmm…” ujarnya dengan senyum yang sangat bermaksud.
“Asli beuh! Manis…” ucapku dengan penuh semangat tuk mendapatkannya.
                  Dari situlah aku memulai. Memulai tuk mencari yang lain. Meski masih terdapat sebuah hubungan, tapi…entah lah.
                  Seminggu berlalu. Cewek itu bernama Dara. Dia adalah adik kelasku di sekolah. Sebenarnya dia itu hitam, tapi hitam manis dan sangat manis. Bahkan terlalu manis dan aku suka itu. Dia tidak tahu akan hal ini. Dia tidak tahu bahwa terdapat sebuah rasa yang begitu besar. Bahkan terlalu besar. Hanya aku, para sahabatku, dan Tuhan saja yang tahu. Kami terus berkomunikasi melalui banyak media. Ya…meski dia kurang merespon tapi sudah lah. Biar ku jalani saja. Memang tidak mudah, tapi tak ada kata menyerah dalam perbendaharaan kamus kehidupanku. Ya…meski banyak pro dan kontra tapi itu hanya opini mereka saja. Aku yang menjalani. Aku yang merasakan dan mereka hanya melihat dan berkomentar saja. Pengejaranku hampir ku batalkan karena seorang sahabatku. Dia adalah sahabatku dari SD dan dia paling benci melihat cewek menangis atau terluka perasaannya karena sebuah factor. Termasuk akan ide pengejaran yang akan ku lakukan. Dia anggap ini adalah suatu kebodohan. Dia adalah Andri
“Gimana Dri tentang ide gue?” tanyaku denga semangat.
“Emm…sorry ya. Gue gak suka sama ide itu. Itu adalah kebodohan jow…mempermainkan perasaan cewek….” jawabnya dengan wajah yang terlihat begitu serius.
                  Untuk pertama kalinya aku lihat wajah seriusnya dan itu sangat menakutkan. Dia terlihat begitu marah saat mengutarakan opininya. Andri yang biasa berekspresi konyol, tiba – tiba degitu serius dan…ini terlalu sulit tuk dijelaskan. Tapi dia ada benarnya juga. Dia memberi banyak kemungkinan dan kemungkinan yang dia berikan itu…pahit semua. Hmm…hidupku begitu rumit. Hanya karena cewek aku jadi dibuat bingung. Terlintas ingin seperti dia. Hidup ceria, enjoy meski tanpa cewek. Tapi…sudah lah. Aku jalani saja dulu.                 
                  Hari – hari penuh kebohongan telah terlewati. Telah ku pikir berkali – kali akan ide ini. Telah ku pikir ratusan kali pilihan mana yang akan aku ambil. Antara mengakhiri hubungan dengan Melinda dan mengejar Dara atau berkata jujur pada Melinda dan siap menerima semua kemungkinan yang akan terjadi. Apa pun itu, akan ku jalani saja dulu. Meski pahit ya…sudah lah. Pada akhirnya telah ku putuskan. Berat memang tapi semoga ini yang terbaik. God only knows. Hanya tuhan yang tahu. Ya! Hanya tuhan yang tahu apa yang menjadi miseteri pada detik berikutnya.
“Halo…assalmu’alaikum. Nda?” sapaku dengan penuh keraguan.
“Wa’alaikusalam…Dani ada apa? Tumben jam segini nelepon…” ujaranya dengan nada penuh keceriaan.
                  Tak tega rasanya merusak keceriaan seorang cewek. Tapi sudah lah. Sudah terlanjur berniat mencari yang lain. Hmm…suara itu terlalu ceria tuk diganti dengan kesedihan. Tapi sudah ku niatkan. Meski hubungan kami baru membaik tapi ini sudah keputusan yang bulat dan rapat. Bahkan terlalu rapat tuk ditembus bakteri sekecil apa pun.
“Gini Nda…Dani mau jujur sama Nda..” ujarku meski terdapat keraguan.
“Iya…sok aja…” ujarnya dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya.
“Nda…jadi gini…”
                  Setelah ku jelaskan semua, dia begitu marah dan ke cewa. Wajar, memang aku yang salah. Aku tak bisa menyalahkan siapa pun. Memang aku yang salah. Memang salah. Terasa sebuah penyesalan yang begitu dalam dan terlalu dalam. Gelap. Begitu gelap dan hampa hati ini. Pikiran ini begitu sepi dan kosong. Hanya penyesalan yang terlintas. Telah ku putuskan tuk menjelaskannya lagi dan meminta maaf tuk yang ke sekian kali. Dan…untungnya dia mengerti dan memaafkan semua kebodohan yang telah ku lakukan dan aku memilih Melinda. Benar, ide ini adalah kebodohan seperti yang dikatakan Andri. Semua sahabatku benar. Untuk apa cari yang lain, mengejarkan sebuah ketidak pastian. Masih banyak yang sayang dan peduli disekitar kita. Luaskan pikiran kalian. Jangan sampai mengalami hal seperti ini. Jangan terbutakan oleh ketidak pastian. Dan jangan sampai melakukan sebuah kebodohan. Kebodohan yang seperti ini.



Terisnpirasi dari @HeruMonta è Abdul Wahid (Heru)

Komentar

Postingan Populer