Mencintaimu adalah Kesalahan
Jarak yang tidak begitu jauh menjadi penghalang untuk kita bisa bertemu. Dan karena jarak ini pula, aku merasakan keraguan akan hubungan jarak jauh yang kita jalani. Berbincang melalui pesan singkat dan juga telpon, mungkin sudah menjadi sebuah kejenuhan yang menjadi biasa diantara kita. Kita yang bersatu sebulan sebelum aku kembali ke kampung halamanku menjadi awal dari hubungan ini. Perasaanmu yang terlambat aku sadari ini menjadi awal dari semua ini. Sayang saat itu aku dan kamu belum mengenal kecanggihan teknologi yang bisa membuat kita saling bertatap muka meski jarak memisahkan.
Suaramu yang selalu aku dengar dan kata-kata yang selalu kau kirim melalu pesan, membuat hasrat untuk me
nemui berbubah menjadi semburan Merapi yang merasuki otak. Kau selalu berkata, “aku ingin bertemu" begitu pula denganku. Tapi semua kesibukan sekolah memaksa kita untuk mengubur keinginginan ini dalam-dalam dan perlahan terlupakan dari benakmu. Aku kembali meragu setelah aku merasa yakin dengan kelancaran hubungan ini karenanya. Perlahan kata-kata yang selalu kau kirim kepadaku menghilang. Begitu pula dengan suaramu yang selalu aku dengarkan dari telpon genggam yang selalu aku tempelkan ditelinga kanan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak terlalu memusingkannya. Aku hanya berpikir bahwa kau mulai sibuk dengan semua urusan duniamu.
Aku masih menyayangimu, mencintaimu dan aku kembali mengembangkan hasratku untuk bertemu denganmu. Tapi keraguan ini selalu memudarkan semuanya dengan mudah dan dengan susah payah, aku harus kembali menumbuhkan semua itu. Pada akhirnya aku berhasil mempertahankan semua rasa yang dihapuskan ragu hingga hari dimana aku pergi ke kota kau tinggal tanpa sepengetahuanmu. Rasa senang ini, tak bisa aku sembunyikan. Jika kau bisa melihatnya, kau akan tahu dari senyumanku yang terus saja tergambar meski telahku hapus karena malu. Sedikit gelisah, namun banyak senangnya. Aku menjadi tak sabaran karenanya. Wajahmu yang sudah tidak pernah aku lihat secara langsung perlahan mengerubuni kepalaku yang pusing karena mabuk darat. Kau terlihat tersenyum, tapi sedikit aneh dalam imajinasiku.
Berkilo-kilo meter panjangnya perjalanan telah aku tempuh. Aku bertemu dengan temanku yang tiba-tiba bertanya, “kau berpacaran dengannya?” dengan bangga aku menjawab “ya.” Setelah jawaban itu aku berikan, tak lama aku mendapat kabar darimu bahawa kau ingin menyudahi hubungan ini. Sontak aku bertanya-tanya. Tapi dalam waktu singkat aku mengetahui kebenarannya dari temanku. Kini aku menyadari bahwa mencintaimu adalah kesalahan.
Suaramu yang selalu aku dengar dan kata-kata yang selalu kau kirim melalu pesan, membuat hasrat untuk me
nemui berbubah menjadi semburan Merapi yang merasuki otak. Kau selalu berkata, “aku ingin bertemu" begitu pula denganku. Tapi semua kesibukan sekolah memaksa kita untuk mengubur keinginginan ini dalam-dalam dan perlahan terlupakan dari benakmu. Aku kembali meragu setelah aku merasa yakin dengan kelancaran hubungan ini karenanya. Perlahan kata-kata yang selalu kau kirim kepadaku menghilang. Begitu pula dengan suaramu yang selalu aku dengarkan dari telpon genggam yang selalu aku tempelkan ditelinga kanan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak terlalu memusingkannya. Aku hanya berpikir bahwa kau mulai sibuk dengan semua urusan duniamu.
Aku masih menyayangimu, mencintaimu dan aku kembali mengembangkan hasratku untuk bertemu denganmu. Tapi keraguan ini selalu memudarkan semuanya dengan mudah dan dengan susah payah, aku harus kembali menumbuhkan semua itu. Pada akhirnya aku berhasil mempertahankan semua rasa yang dihapuskan ragu hingga hari dimana aku pergi ke kota kau tinggal tanpa sepengetahuanmu. Rasa senang ini, tak bisa aku sembunyikan. Jika kau bisa melihatnya, kau akan tahu dari senyumanku yang terus saja tergambar meski telahku hapus karena malu. Sedikit gelisah, namun banyak senangnya. Aku menjadi tak sabaran karenanya. Wajahmu yang sudah tidak pernah aku lihat secara langsung perlahan mengerubuni kepalaku yang pusing karena mabuk darat. Kau terlihat tersenyum, tapi sedikit aneh dalam imajinasiku.
Berkilo-kilo meter panjangnya perjalanan telah aku tempuh. Aku bertemu dengan temanku yang tiba-tiba bertanya, “kau berpacaran dengannya?” dengan bangga aku menjawab “ya.” Setelah jawaban itu aku berikan, tak lama aku mendapat kabar darimu bahawa kau ingin menyudahi hubungan ini. Sontak aku bertanya-tanya. Tapi dalam waktu singkat aku mengetahui kebenarannya dari temanku. Kini aku menyadari bahwa mencintaimu adalah kesalahan.



Komentar
Posting Komentar