Gita: Aku Mengagumimu Bahkan Lebih

Disuatu sore yang masih bermandikan hujan, aku dan beberapa temanku terpaksa harus menunggu di dalam kelas yang sudah sepi. Tapi ini menjadi kesempatanku.
“Minta pendapatnya dong…” aku menyedorkan secarik kertas kepadanya yang berisikan,
“Gaya rambut khasmu itu tidak pernah berubah dari saat pertama aku melihatmu di tengah lapang upacara yang sudah matang terpanggang matahari. Aku menyukai itu. Kau yang sedang berdiri di depan barisan murid baru yang sedang mengikuti MOS itu terlihat sangat biasa. Namun hal itu tak pernah bisa aku lupakan. Entahlah, mungkin hanya penampilanmu saja yang terlihat biasa tapi tidak dengan aura kepribadian yang kau pancarkan. Seperti oksigen yang selalu aku hirup aura kepribadianmu itu begitu cepat memenuhi tubuh. Kau membuatku penasaraan saat itu. Kau bisa dikategorikan sebagai orang aneh yang pernah aku temui. Tapi kau begitu memikat karena keanehan sifatmu itu. Mungkin bukan aneh, tapi unik.
Perlahan aku menaruh rasa yang berbeda setelah banyak hal terjadi dalam hubungan pertemanan kita yang terbentuk secara tiba-tiba. Aku mulai mengaggumimu. Dengan semua keberanian yang aku kumpulkan, aku mulai menampakan perasaanku ini kepadamu. Awalnya aku meragu karena aku yakin bahwa kau akan bersikap biasa dan ternyata benar dugaanku. Perlahan aku mulai menghapuskan semua rasa kagumku padamu. Hingga pada akhirnya, kita berada dalam satu kelas dan semua rasa yang sudah kuhapus kembali muncul seiring dengan seringnya kita bertemu.
Setelah dua semester ditahun terakhir ini, aku mulai berandai-andai jika di dalam kelas ini kau duduk sebangku denganku. Dan di atas bangku ini, aku mulai berandai jika kau selalu menoleh kebelakang lalu tersenyum kepadaku. Setelah satu tahun di dalam kelas yang sama dan setelah tiga tahun kita berada dalam SMA yang sama, terdapat sebuah rasa yang semakin lama-lama semakin bergejolak. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi perasaan yang bercampur-aduk ini. Disatu sisi, aku ingin merahasiakannya, tapi disisi lain, aku merasa takut jika perasaan ini tidak akan pernah tersampaikan. Tapi yang jelas, aku tetap mengaggumimu – mungkin lebih.
Kau selalu terlihat sangat apa adanya. Kau selalu saja begitu apapun keadaannya. Itulah yang memicuku untuk selalu ingin berada di dekatmu bagaimanapun caranya. Ya, kita memang duduk berdekataan saat di kelas… tapi bukan itu yang aku inginkan. Mungkin, lebih tepatnya… aku ingin memilikimu. Ya! Aku ingin memilikimu. Aku ingin merubahmu menjadi boneka agar aku bisa melihat senyummu setiap saat – setiap kali aku ingin melihatnya. Mungkin itu terlalu berlebihan, tapi itulah dampak yang diberikan oleh rasa fanatik ini. Hah… Sebaiknya aku lupakan saja keinginan anehku ini.
Tapi yang jelas untuk saat ini aku mengaggumi bahkan lebih. Aku harap kau mengerti.”
Wajahnya terlihat kebingungan setelah dia membaca surat dariku. Secara tiba-tiba dia menatap mataku dan aku memalingkan padanganku. Perlahan aku menarik nafas dan bertanya.
“Bagaimana?”
Dia memasang senyumannya yang biasa lalu memasukan suratku ke dalam saku celananya. “Aku akan membalas suratmu.” lalu dia berlari meninggkalkan kelas ini.
Dengan wajah yang masih saja tersenyum, aku mengikat rambutku kebelakang dan kemudian mengemasi barang-barangku sebelum kembali ke rumah.

Komentar

Postingan Populer