Gilang: Aku Mengagumimu Bahkan Lebih
Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan sebuah surat yang diberikannya secara langsung saat kita terjebak dalam kelas karena hujan. Hingga saat ini, aku belum membalas surat yang diberikannya. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara yang bagaiamana. Terkadang terlintas dalam benakku untuk memberinya surat lagi tapi aku tidak tahu harus menulis apa dalam surat itu. Aku tidak memiliki banyak kosakata dalam otak ini jadi aku tetap merasa bingung meski beberapa orang terdekatku memberi tahu, “tulis apapun yang ingin kau tulis.” Bahkan aku masih bertanya-tanya kenapa aku bisa berkata akan membalas suratnya. Mungkin ini adalah perwujudan rasa senangku karena orang yang aku sukai selama ini mengutarakan perasaannya sebelum aku. Ya, aku menyukainya selama ini. Ini adalah cinta pertamaku yang tidak berdasarkan nafsu belaka.
Hingga pada suatu malam, aku menemuinya di sebuah tepat yang cukup ramai dan dengan ragunya aku memberikan sebuah surat yang menurutku gagal.
“Aku menepati janjiku.” aku menyodorkan kertas itu kepadanya.
“Mendadak canggung nih…” perlahan dia membuka surat itu dan membacanya dengan lirih.
“Saat itu, aku sedang melihat daftar murid yang mengisi kelas XI IPA 3. Hanya sekedar ingin tahu saja, tidak ada maksud lain. Setelah semua terasa cukup, aku memasuki kelas dan entah kenapa mataku langsung tertuju padanya. Meski terhalang oleh beberapa murid yang lain, tetap saja mataku bisa melihatnya dengan jelas. Dan mulai saat itulah aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari perasaan ini. Awalnya aku tidak percaya karena selama ini aku tidak pernah merasakan hal itu kepadanya. Setahun yang lalu semua terasa biasa saja, tapi kali ini aku mulai menatapnya dengan sudut pandang yang berbeda. Sempat aku berpikir, mungkin ini akibat dari gaya rambutnya yang baru. Tapi seiring dengan seringnya kita bertemu dalam kelas, perlahan aku menyadari bahwa ini bukan cinta yang berdasarkan nafsu.
Aku suka saat dia memasang wajah beloonnya saat dia dikerjai dan dia tidak menyadarinya. Seolah menjadi candu yang membuatku ingin terus menjahilinya. Tapi aku tidak suka saat dia marah apa lagi karenaku. Itu sealu membuatku kesal sendiri dan membuatku menjadi orang yang tidak berguna. Senyumannya terlihat biasa namun memiliki daya tarik sendiri untukku. Aku begitu menyukainya sampai-sampai aku melupakan dunia saat melihatnya. Rasanya seperti diterbangkan olehnya dan lalu diturunkan kembali setalah aku hampir mencapai titk klimaks dunia fantasi itu.
Setelah hampir dua tahun bersama, aku mulai memutuskan untuk mengutarakan perasaanku ini. Aku tidak peduli akan hasilnya, yang penting aku sudah mengutarakan perasaanku. Tinggal menunggu tanggal yang tepat saja, dan aku akan mengutarakannya. Aku rasa tanggal yang tepat adalah hari dimana kau sedang berdiri dibawah malam, disinari oleh bulan yang hanya tampak setengah, dan disaksikan oleh semua rasi bintang yang selalu kau tulis dalam beberapa cerpen atau puisimu.”
Bibirku tersenyum tapi tidak dengan mataku. Aku melihatnya menangis setelah membaca surat itu dan itu membuatku bingung setengah mati. Ini adalah kali pertamanya aku melihat dia menangis.
Sembari mengahapus air matanya yang berjatuhan, dia berkata dengan lirih dan terbata-bata.
“Aku berharap jika semua ini terjadi beberapa tahun lalu.”
“Ya, mungkin ini memang sudah seharusnya.” ujarku sembari menatap bulan.
“Mungkin kita tidak akan bertemu untuk beberapa tahun kedepan. Aku akan berkuliah di luar negeri.”
Aku mengintip wajahnya yang masih bersedih dari sudut mataku.
“Kau tak usah khawatir, aku akan menunggumu dan kau pun harus menungguku hingga aku berhasil mencapai tujuan hidupku.” aku mengembalikan surat yang aku berikan. “Simpan ini dan jaga baik-baik hingga kita dipertemukan kembali dalam satu ikatan yang serius.” aku tersenyum begitu juga dengannya.
Meski sedikit merasa kecewa dengan jawabannya, tapi aku tetap tersenyum karena disatu sisi aku merasa lega. Dan mulai saat ini aku berusaha untuk menjadi pirbadi yang sukses lalu dimasa yang akan datang aku akan menemuinya lagi dan mengukir inisial nama kita dipapan depan rumah kita kelak. GG: Gilang dan Gita.


Komentar
Posting Komentar