Raja Yang Hilang


            Setiap lontaran kalimat dan katanya selalu menggertakan hati dan penuh dengan ilmu. Dialah sosok ayah yang selalu ku rindukan. Tidak dekat tapi memiliki sebuah ikatan batin yang kuat. Didikannya sangat keras. Tapi karya dari hasil didikanya itu sangat indah. Yaitu, anak – anak yang disiplin. Kecuali aku, tidak disiplin, lembek, lebih suka dibebaskan dari pada dikekang asal dalam hal positif. Tapi ada saatnya aku menjadi orang yang keras. Dia adalah guru dari segala guru. Raja yang bijak dalam keluarga sederhana ini. Apa pun dia lakukan demi ke tujuh anaknya.
            Sore itu tepatnya hari jum’at, hujan turun tak begitu deras. Suasana rumah yang tampak biasa. Saat itu aku masih berseragam putih – merah, tepatnya kelas empat sedang asik bermain bersama ponakan pertamaku. Ayah dan ibuku sedang beristirahat di kamar mereka. Entah kenapa hari itu aku ingin bermain di depan kamar ke dua orang tuaku. Adzan ashar berkumandang. Selang beberapa menit ibuku berteriak. Sontak seisi ruamah menuju sumber teriakan itu. Aku hanya bisa terdiam, bingung, panik entah apa yang harus ku lakukan. Itu pertama kalinya aku mendengar ibuku berteriak seperti itu.
            Berita buruk datang. Hal yang tak pernah diharapkan terjadi. Seorang raja telah pergi untuk selamanya dari kerajaan sederhana ini. Kebingungan ini semakin bertambah. Hati ini menangis, tapi aku tak bisa mengeluarkan air mata. Ibuku terlihat begitu pasrah dan kakaku ngotot untuk membawa ayahku ke RS.
            “Cepet bawa ke RS!” ucap kakaku dengan panik.
            “Udah biarin, ini emang sudah waktunya” ucap ibuku pasrah.
            Sebelum hal ini terjadi, ayahku sempat bulak – baik gak jelas, sepulang shalat jum’at. Tak disangka, itu adalah pertanda.
            Entah apa yang ada dalam pikiranku. Tubuh ini tiba – tiba bergerak dan melangkahkan kaki menuju sebuah lapang bola. Ditengah hujan, aku hanya bisa melamun. Menundukan kepala dan bertanya – tanya “sebenarnya apa yang terjadi?”. Entalah, saat itu aku tak mengerti. Anak seusiaku telah mengalami hal seperti itu. Mungkin banyak anak yang mengalami hal yang lebih parah dari ini, tapi ini sangat parah bagiku. Ditengah lamunan yang kelam itu, datang salah seorang saudaraku menjemput dan mengajak ku pulang. Aku tak mengerti, tapi semua terasa hampa. Mati rasa.
            Rumah yang sepi mendadak ramai. Semua sudah berkumpul. Bendera kuning telah dikibarkan. Terlihat seorang yang begitu histeris. Oh ternyata itu ibuku, yang sudah tidak bisa menahan kesediahannya lagi. Enggan rasanya menuju ruang keluarga. Aku lebih memilih menuju kamar dan berbaring sembari menutupi seluruh badan dengan selimut. Suram, pikiran ini kosong, tak ada satu pun yang ku ingat.
            “De! Cepet kebawah, gak akan liat?” ucap kakaku.
            “Engga ah…takut.” ucapku.
            Hanya rasa takut yang gak jelas yang bisa ku rasa. Mungkin?
            Kejadian itu sangat mencengangkan. Tapi setelah beberapa minggu berlalu, semua kejadian itu seakan hanya sebuah mimpi. Kehidupanku kembali normal, menjalani masa kecil dengan ceria tanpa beban sedikit pun. Tapi setalah aku menginjak usia remaja. Setelah aku menjadi siswa SMA, aku baru tahu rasanya kehilangan. Tak ada sosok pembimbing. Bisa dibilang hampir putus asa. Meski terlihat seperti biasa, tapi hati ini selalu merindukan sosok raja yang bijak. Pikiran ini terus memikirkan sosok seorang guru dari segala guru. Entah apa yang dia inginkan dariku. Katanya, dia ingin aku menjadi pemuka agama. Tapi sayangnya hal itu tak bisa ku lakukan. Aku sudah memiliki pilihan. Tak banyak yang ku ingat tentang ayah. Tapi dia adalah sosok yang kuat. Berhasil bertahan hidup dengan segala cobaan yang dia alami dan berbagai macam penyakit yang dia derita. Ya….seperti yang ku bilang, kami tak dekat tapi memiliki ikatan batin yang kuat. Sekuat kesabaranku yang menahan rasa rindu, kecewa, keputus asaan dan semua perasaan yang terjadi jika sosok raja terlintas dalam pikiran yang abstrak ini.

Komentar

Postingan Populer