Dalam Ingatanku
Ku masuki kelas yang berbau cat ketika ku hirup udara
dalam kelas ini. Ku putar mataku dan memperhatikan tembok kelas yang dipenuhi
dengan karya tulis dan curahan hati anak – anak ini dan hanya satu tulisan yang
membuatku terfokus. Tulisan besar dengan berbagai warna di dalamnya dan tulisan
itu adalah DUA BELAS IPA EMPAT dengan di sampingnya bertuliskan moto yang
kubuat.
“Kami datang bukan untuk sekedar bisa tapi kami datang
untuk tahu, belajar bersama, dan berbagi pengalaman menarik.” ucapku berbisik.
Di kelas ini, aku atau biasa disapa Bayu ini
mencari jati diri ku yang sebenarnya. Tepatnya di sekolah ini aku mulai mencari
jati diri. Hari ini adalah hari yang selalu ku nanti. Karena hari ini tepatnya
jam pelajaran ke tiga adalah pelajaran kesukaanku yaitu olahraga. Ya, meskipun
aku kurang menyukai upacara bendera yang berlangung setiap hari senin ini, tapi
kita sebagai pemuda penerus bangsa harus mengapresiasi atau menghargai hasil
jerih payah pejuang – pejuang kita yang sudah mengorbankan nyawa demi kebebasan
yang abadi. Dan kenapa hari ini menjadi hari yang dinanti oleh ku? Karena
menurut kabar angin yang berhembus, akan ada seorang murid baru. Ya, semoga
saja murid baru itu seorang perempuan.
“Baik anak – anak, sekarang kita melanjutkan materi yang
kemarin.” ucap guru matematikaku.
“Hmmmm..aku tidak terlalu suka pelajaran hitungan.
Kenapa aku harus masuk IPA?” keluhku dalam hati.
“Oh ya bu. Katanya mau ada murid baru dikelas ini? Cewek
lagi.” ucap temanku sambil senyam – senyum.
“Baru juga ibu mau bilang, katanya bentar lagi datang.”
ucap guruku.
“Oh…ternyata kabar angin itu benar.” ucapku berbisik.
“Ngomong apa kamu tadi Bay?” tanya temanku.
“Hah? Nothing.” ucapku
Ternyata itu bukan sekedar kabar angin sebarangan. Sudah
tidak sabar aku ingin melihat murid baru itu.
Baru saja dibicarakan murid baru itu langsung datang dan
aku langsung melamun dan bertanya – tanya. Dia mengingatkan ku pada seorang
perempuan yang sudah sembilan tahun menghilang atau mungkin dia orang yang
sudah lama menghilang dari hidupku? Berdebar hati ini. Aku terus menggaruk
kepala meski tidak terasa gatal sedikit pun. Perasaan apa ini sebenarnya? Aku
ingin meluapkannya dengan rasa senang tapi aku tidak bisa tersenyum sedikit
pun. Aku hanya bisa melamun sambil menatapnya dan ingatan yang terus memutar
cerita masa kecil ku dengan perempuan yang sudah menghilang selama sembilan
tahun.
Dia duduk disebelah ku. Lebih tepatnya lagi barisan ke
satu bangku ke dua. Jantung ini berdebar lebih kencang saat dia menuju tempat
dia duduk sekarang. Tubuhku lumpuh seketika. Ingin rasanya berlali. Tapi tubuh,
hati, dan pikiran ini sulit untuk diajak kompromi. Satu detik terasa seperti
satu jam. Aku hanya bisa menggigit lidah ku sendiri sambil berusaha tuk
menatapnya dan sekarang aku seperti mendegar seseorang memanggil namaku. Tapi
aku tak tahu dari mana suara itu dan setelah aku tersadar dengan sepontan, aku
menyaut suara yang berasal dari wanita itu.
“OI! Ada apa?” Ucapku sedikit berteriak.
“Dari tadi sejak pertama aku masuk kelas, kamu melamun
terus. Ada apa sih sebenarnya Bay?” tanyanya sambil tersenyum manis.
“Hey, dari mana kau tahu namaku dan siapa namamu?” tanyaku
lembut.
“Ditanya malah balik nanya. Hmmm..baiklah, namaku Reghi
dan soal aku bisa tahu namamu itu pasti kau akan mengetahuinya.” ucapnya dengan
senyum yang sama.
Nama itu membuat kotak memoriku terbuka dan mengeluarkan
semua isinya yang sudah tertata rapih dan sekarang berantakan kembali. Butuh
waktu lama tuk merapihkannya. Tapi hanya dengan hitungan detik semua berkas –
berkas kenangan itu berantakan kembali hanya dengan dua faktor yaitu wajah dan
nama wanita itu. Aku harus segera membereskan semua ini.
“Oh…Reghi, boleh gak aku panggil Rere?” tanyaku.
Melihat ekspresi yang dia berikan setelah ku sebut kata
Rere dia langsung melamun sambil menggigit bibirnya.
“Hey, kenapa bengong?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Oh…ya terserah kamu aja, aku udah biasa dipanggil Rere
dari kecil.” ujarnya.
“Ohahahahaha…gitu ya…” ucapku.
“Sepertinya dia memang teman masa kecilku?” tanyaku
dalam hati.
“Ada apa melamun?” tanyanya sinis.
“Engga. Udah ah, aku mau merhatiin guru.” ucapku dingin
“O atuh!” Ucapnya.
Hanya dengan menjulurkan lidah aku sudah bisa membuatnya
terdiam.
“Hmm…siapa dia sebenarnya? Mengapa secepat ini aku bisa
dekat dengannya?” tanyaku dalam hati.
Sedang berusaha mencari tahu siapa dia sebenarnya
memlalui data – data yang ada, tampa ku sadari aku sudah membuat guru yang
sedang mengajar kesal karena aku tidak memperhatikan dan aku pun langsung
disuruh keluar. Dengan berat hati dan wajah yang memerah bagaikan tomat, aku
pun berjalan keluar dan duduk di teras depan kelas yang baru saja dipel dan
beraroma yang tidak karuan yang berasal dari tong berwarna – warni dan banyak
tulisan dibagian luarnya. Banyak senyuman yang bermaksud mengihina melewati
wajahku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum stres karena menahan malu.
Pegal rasanya punggung ini. Tapi rasa pegal ini akan
berakhir dalam hitungan detik dan akhirnya bel perpindahan jam pelajaran pun
berbunyi. Tapi kenapa guru itu belum keluar juga? Dan setelah aku intip melalui
jendela yang sudah hilang kejernihannya itu, ternyata mereka sedang
melaksanakan ulangan dan itu akan menjadi sebuah penyesalan yang paling parah
untuk hari ini. Hancur sudah niat belajar pada hari ini hanya karena satu orang
yang memberikan tanda tanya besar dikepala.
“Aaaah! Dasar cewek yang aneh, coba kalau dia gak masuk
hari ini! Mungkin aku tidak akan bernasib seperti ini! Hmm…akan segara ku
bongkar siapa dia sebarnya.” ujarku dalam hati.
“Bayu, masuk kamu!” ucap guruku.
Aku pun masuk dengan hati yang tidak karuan. Aku
dipermalukan dihadapan banyak orang karena hal sepele. Hati ini semakin tak
karuan setelah aku dicermahi oleh guru yang kurang disukai oleh semua anak –
anak di kelas karena sikapnya. Tiap lontaran kata yang dia keluarkan itu
bagaikan suara sumbang yang merusak telinga dan mematikan api kecil dalam hati
yang hampir padam. Hanya dengan sekali tiup guru ini bisa mematikan api kecil
yang berusaha keras untuk tetap menyala. Tapi ini semua memang salahku karena
aku tidak memperhatikan saat guru sedang menerangkan.
Sudah saatnya memberi makan cacing dalam perut yang
sudah berdemo meminta makan. Sambil mengunyah dan menelan, aku merencanakan
bagaimana caranya aku bisa memastikan siapa dia sebenarnya. Akhirnya aku
menemukan titik terang dan aku akan bertanya tetang masa kecilnya sekarang.
“Re! Aku mau nanya sama kamu boleh ga?” tanyaku.
“Mau nanya apa emang?” tanaynya.
“Masa kecil kamu gimana sih? Boleh cerita gak?” tanyaku.
Setelah panjang lebar dia bercerita, akhitnya aku bisa
memastikan siapa dia sebenarnya dan dari raut wajahnya aku tahu dia berharap aku
berkata sesuatu.
Tak terasa sudah hampir jam dua dan itu berarti sebentar
lagi suara yang selalu dinantikan setiap anak berbunyi. Tapi perjalan menuju
rumah atau tujuan lain setelah bel yang dinanti berbunyi akan terhambat oleh
tetesan air yang berjatuhan dari langit. Banyak anak – anak yang sudah bersiap
– siap, meski guru di depan kelas masih mengajar. Banyak anak – anak yang sudah
melamun menantika suara yang indah yang berbunyi dari luar. Aku hanya melamun
sambil menggiti ujung pensil dan pandangan kosong yang terus menatap ke arah
wajahnya. Jika diperhatikan dia memang mirip dengan teman masa kecil ku, bahkan
bukan mirip lagi, aku sudah yakin bahwa cewek itu adalah dia dan jika
diperhatikan lagi, dia memang manis dan cantik dengan kacamata yang menempel
erat diwajahnya sejak pertama masuk kelas.
Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Semua anak berhamburan
mendekati pintu keluar. Meski gerimis masih mengguyur, tampaknya itu tidak
mengurungkan niat semua orang untuk segera melepas beban yang memberatkan kepala
selama jam pelajaran berlangsung. Sebelum pulang aku memeriksa apakah ada yang
tertinggal atau tidak dan aku baru sadar bahawa ada sesuatu yang ingin aku
katakan kepada perempuan yang telah memberikan tanda tanya besar ke dalam
kepalaku. Setelah aku perhatikan ke arah lapangan upacra melalui jendela,
ternyata dia sedang berjalan perlahan menikmati rintikan air hujan yang
berjatuhan membasahi wajahnya. Dengan tergesa – gesa aku pun berlari sambil menarik
tas yang cukup berat ini ke arah lapangang.
“Re tunggu! Sekarang aku tahu siapa kamu sebenarnya.
Kamu adalah teman masa kecil ku yang sudah lama menghilang, maaf kalau aku
telat menyadarinya, kamu tahukan kalau aku lemot. Emm…apakah kamu masih ingat
dengan ku?” teriaku ditengah gerimis.
Dia hanya tersenyum dan berlari ke
arah gerbang keluar. Dan aku tahu maksud dari senyuman itu. Dengan hati yang
terbakar dengan api yang tadi sudah padam, aku pun berlari mengejarya dan pada
akhirnya kita pulang bersama seperti saat dulu waktu kita masih duduk dibangku
sekolah dasar dan yang terpenting sekarang kami bukan sekedar berteman tapi
kami menjalin hubungan yang spesial sampai kami berada dalam satu rumah bersama
satu anak laki – laki yang sedang tersenyum bangga mendengar ceritaku ini dan
semua ini tersimpan rapih dalam ingatanku sampai kapan pun.

Komentar
Posting Komentar