Bukan Akhir Segalanya



Sore itu, cuaca sedang dalam perjalanan menuju hujan yang gak jadi. Aku dan ketiga temanku Siad, Reza, dan Firman sedang santai dan mengobrolkan hal yang gak jelas. Hanya ditemani oleh beberapa makanan dan minuman ringan. Semua larut dalam keceriaan dan sebuah tawa yang keras dan tak ada habisnya. Terlintas dipikiran untuk menghabiskan sisa sore ini dengan berkeliling menggunakan sepedah motor.
            “Oi…kita jalan – jalan yu!” ucapku.
            “Hayu! Make motor ya!” dengan semangat dan wajah sedikit sumbringah Resa merespon.
            “Hayu ah!” ucapku langsung berdiri tegak.
            Seakan tak ada beban terasa. Semua terasa begitu santai. Ditemani lagu yang selalu menemani. Aku melaju kencang secepat cahaya dengan motor kesayanganku ini. Cuaca yang mendukung membuat kita tidak ingin berhenti memacu kuda besi ini. Berbagai trek terlewati. Hanya waktu yang bisa menghentikannya.
            “Udah maghrib beuh, pulang yu ah!” ujar Firman.
            “Sippo…” respon yang khas, hanya Siad yang punya.
            Ngeriot bareng sore ini berakhir gantung. Tapi tak apalah, ingat premium sudah naik tinggi dan entah bisa balik lagi atau enggak.
            Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar dan membuka HP. Sudah 130 chat yang masuk. Ternyata dari anak – anak IPA 2.
            “Wah…ini pasti ngomongin puasa kapan” ucapku dalam hati.
            Ketika dibuka, ternyata bukan. Mereka sedang sibuk menanyakan ke lulusan SBMPTN. Banyak yang berhasil tapi banyak juga yang kurang beruntung. Teringat bagaiman kabar ke lulusan ku. Bergegas membuka laptop dan langsung mengkoneksikan internet. Tiba – tiba detak jantung langsung lepas kontrol, asma mendadak, pusing, garuk – garuk kepala gak jelas, salah tingkah, dan intinya adalah grogi. Ku buka situs resmi SBMPTN. Ku masukan indentitasku dan….
            “Oh god…emang bukan rizkinya…” ucapku terpuruk.
            Berita itu sangat mencengangkan. Banyak penyesalan yang terlintas. Aku hanya bisa berbaring dan pasrah. Bingung mau berbuat apa. Hanya memasrahkan tubuh larut dalam ke putus asaan. Masalaluku adalah kebodohanku. Dalam hatiku berkata “Coba, kalau dulu rajin. Pasti gak akan kaya gini…” hanya itu yang bisa ku katakan. Ya, mungkin, masalalumu menentukan nasibmu sekarang. Jika sekarang kau suram kemungkinan masa lalaumu juga suram. Dan satu lagi, gagal bukan akhir segalanya. Kata - kata itulah yang selalu menyemangatiku disaat gagal.

Komentar

Postingan Populer